SDN CIPEDANG IV BY DIDI ARYANDI

Selasa, 08 November 2016


Refleksi
Refleksi merupakan suatu pemikiran mendalam dimana seseorang memikirkan atau merenungkan kembali situasi yang telah dilalui untuk menganalisa apa yang telah dilakukan, mengapa dilakukan, bagaimana telah terlaksana, dan bagaimana hasilnya. Refleksi merupakan satu bagian dari proses belajar dan merupakan satu istilah generik bagi kegiatan intelektual yang efektif, dimana individ-individu yang terlibat didalamnya berusaha untuk menyelidiki pengalamannya guna membantu pemahaman dan apresiasi baru terhadap sesuatu hal tertentu (Bloud dkk, 1985, dalam Marselus R. Payong, 2011).
Pengalaman penting sebagai sumber melakukan perbaikan. Setiap orang belajar melalui refleksi kritis terhadap pengalaman dirinya dan mengeksplorasinya untuk memahami setiap kejadian yang telah dilewati serta melihatnya dari sudut pandang yang berbeda (Tate, S. & Sills, M., 2004).
Refleksi tidak hanya dapat diarahkan untuk mengetahui hal-hal yang sifatnya rutin. Refleksi dapat diarahkan untuk penggalian informasi tentang kualitas interaksi guru dengan siswa, keterlibatan siswa dalam pembelajaran, pengembangan sikap siswa, penguasaan pengetahuan dan ketrampilan oleh siswa, situasi balajar, hasil belajar, dan lain-lain. Refleksi pembelajaran juga dapat digunakan sebagai bagian dari proses pengembangan profesionalisme keberlanjutan guru.
Berdasarkan hasil refleksi pembelajaran tersebut guru dapat memunculkan perubahan-perubahan baik dalam tataran paradigma, konsep, strategi, dan pendekatan yang lebih edukatif, perubahan kurikulum, maupun perubahan kebijakan.
2. Prinsip Refleksi Pembelajaran
a. Berkelanjutan
Refleksi pembelajaran dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. Temuan pada suatu refleksi perlu ditindaklanjuti untuk melakukan perbaikan pembelajaran selanjutnya.
b. Komprehensif
Refleksi pembelajaran dilaksanakan untuk seluruh dimensi pembelajaran, baik perencanaan, pelaksanaan, maupun hasil pembelajaran. 
c. Terintegrasi
Refleksi pembelajaran dilakukan secara terintegrasi antar aspek pembelajaran. Refleksi terhadap praktik pembelajaran tidak dapat dilepaskan dari pencermatan kembali ketepatan perencanaan pembelajaran. Demikian pula, praktik dan perencanaan pembelajaran juga harus dikaitkan dengan hasil pembelajaran yang dicapai siswa. 
d. Jujur
Refleksi pembelajaran dilakukan secara jujur untuk mendapatkan hasil yang sesungguhnya. Guru yang melakukan refleksi tidak perlu menutup-nutupi fakta yang ditemukan hanya karena takut akan menyebabkan jatuh harga dirinya. Tidak ada hubungan antara refleksi pembelajaran dengan harga diri guru. Jika memang ditemukan kekurangan dalam praktik yang telah dilaksanakan, guru hanya perlu memperbaikinya, bukan merisaukan tentang harga dirinya.
e. Sistematis
Refleksi pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah yang jelas dan terencana. Refleksi pembelajaran yang dilakukan hanya spontanitas, tanpa rencana dan langkah yang jelas, kurang memberikan hasil refleksi yang memadai bagi peningkatan kualitas pembelajaran yang diharapkan.
f. Kontekstual
Refleksi pembelajaran dilakukan dengan memperhatikan situasi atau konteks bagaimana pembelajaran yang direfleksikan berlangsung, tidak hanya berdasar pada sumberdaya yang digunakan menurut teori dan ahli pendidikan.
Tujuan dan Manfaat Refleksi Pembelajaran
Refleksi pembelajaran dilakukan untuk melihat keterlaksanaan pembelajaran yang dikelolanya, kesesuaian rencana yang telah dibuat dan pelaksanannya, keberhasilan pembelajaran, mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi, dan hal-hal lain berkaitan dengan pembelajaran di kelas. 
Guru yang melakukan refleksi terhadap praktik mengajar yang telah dilakukan berpotensi dapat memberikan perubahan mendasar terhadap kinerjanya. Ketika seorang guru merasa bahwa:
  • siswa kurang perhatian atau motivasinya, atau
  • beberapa siswa tidak mencapai prestasi yang optimal, atau
  • mendapati nilai siswa-siswanya tidak sesuai yang diharapkan.
Kemudian guru tersebut mencermati kembali pelaksanaan pembelajaran yang telah dilakukan, merenungkan apa yang kurang pas atau perlu diperbaiki, kemudian mencoba membuat kembali rencana mengajar yang lebih baik berdasar refleksi, maka besar kemungkinan guru dapat merevisi kekurangan-kekurangan dalam proses pembelajaran, dan akan membawa pembelajaran menjadi lebih baik, pada akhirnya dapat membantu para siswa mencapai hasil belajar yang lebih optimal.
Jika berpikir reflektif terus dilakukan guru, dimana guru terus mengajukan pertanyaan reflektif terhadap dirinya, apakah saya telah membuat perbedaan praktik mengajar yang lebih baik, dan kemudian menindaklajuti dengan mencermati kembali praktik yang telah dilakukan dan memanfaatkan hasilnya untuk merancang dan melaksanakan pembelajaran selanjutnya yang lebih baik, maka guru tersebut akan mampu menjamin kualitas mengajarnya menjadi semakin baik.
Demikianlah guru reflektif itu akan mencapai hasil yang optimal dalam menjalankan tugas profesionalnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar